Wednesday, March 26, 2014

Media Power and the Dangers of Mass Information


In this era, media no longer becomes a strange thing. It overwhelmingly influences not only us, as human being, but also the world's development in all aspects. Let me focus on one example which is television. Television is an utterly influential media that alters and distorts our perceptions of reality, and due to that, it results in enormous consequences.
When distant events that happen in another country, such as human disasters and Football World Cup, are showed on the television, it can influence our feelings. The delivery of real-time experiences in a sensational manner makes us share the daily both triumphs and tragedies of human race. Consequently, it results in a new kind of knowledge. Therefore, television alters our perspectives about world.
Second, television influences the process of thinking and deciding. The  progression which happens when we are reading and watching is obviously different. When we are reading, it is begun from words to reason, to conviction, and to action. On the other hand, it is begun from image to impression, to emotional reactions, and to action, when we are watching.
Television sometimes needs to distort knowledge since it always focuses on visual things, becomes the third point. Oftentimes, the things are photographed and then provoke people's emotions, and are dramatized at last. Salient things are frequently neglected though, as it doesn't come with pictures.
The fourth, television expands our knowledge. News shows, headlines, and dialogs or talks are programs that overwhelm our brain's capacity. Nevertheless, they create problems since everything is chopped into tiny pieces of informations until it is difficult to digest, analyze, and judge.
Those points cause enormous consequences for publicity. As we all know, television--as mass media--produces instant mass emotions, instant mass opinions, and mass pressures. Those 3 things force policymakers to act without prior thought and against their best judgements. Mass media have the power of not only magnifying as well as reporting conflicts of power, supporting, and harassing, but also explaining. These powers make it become both the collaborators and adversaries of government.
As we know, mass media greatly mold public opinion in orded to serve their needs. False issues and facts are often created due to that. They don't base on reality and displace truth, only to get the greatest media impact and public favor.
What we can do about this is by coming up a new kind of journalism that is "Preventive Journalism". It should try to identify the underlying causes of crisis before happening, rather than after happening. It is not enough to provide the videos-for examples-of war only, the underlying causes of it have to be provided either. This would require a different mindset and new techniques. It would mean looking deeply into societal trends on a sustained, long-term basis, so that public can know the process that might lead into a crisis.
Summarized by ETS from Michael J. O'Neill's essay

Sunday, March 23, 2014

Economic Growth

As we know that the economy of our beloved country, Indonesia, does not stand a good chance of having as tremendous economic growth as China does. It is a far cry from China. Economic growth in China absolutely will always increase from year to year. The only question is whether or not the economic growth grows as very well as previous year? But let's see our country's economic growth. Will it increase in next year? How many percent of it? I bet our country's economic growth will still be a salient problem since there is one thing that has not been handled well by the government.

Poverty. Thousands or even millions people starve because of poverty now. They do not know where to live, what to do, how to survive. The job fields here in Indonesia are not as numerous as we expect. So how can they make our country's economic growth increase when they don't even have job or jobless, I ask? How can they be smart as Chinese to invent new technologies to make Indonesia's economic growth better in the next few years when they don't have enough nutritious foods or some of them even starve? Just keep dreaming if you still wish our economic growth will be as tremendous as China. Keep having that nice dream!

To conclude, that Indonesia stands a good chance of having as tremendous economic growth as China does is still impossible, I think. Poverty, which is still a big problem which had not been handled well by the government really has significant role in it. If the poverty goes to decrease, I bet then the economic growth goes to increase.

Written by Elsa Tamara Shalsabila on December 3, 2013

Saturday, March 15, 2014

Demi Waktu

Demi waktu.
Katakan padaku saat cinta mulai menghampiriku.
Katakan padaku saat cinta mulai mengintip persembunyianku.
Katakan padaku saat cinta mulai menggerayangi pintuku.
Katakan padaku,
hanya itu.
Demi waktu.
Tegurkan aku saat cinta mulai merayap masuki relungku.
Tegurkan aku saat cinta mulai bermain2 di benakku.
Tegurkan aku saat cinta mulai butakan mataku.
Tegurkan aku,
hanya itu.
Dan demi waktu.
Belailah aku saat cinta mulai mengecup sendu.
Belailah aku saat cinta mulai merangakak menjauh.
Belailah aku saat cinta mulai menyentuh kelabu.
Belailah aku,
hanya itu. --ets011213

Friday, March 7, 2014

Kamu, adalah kamu

Kamu,
yg diam-diam datang,
tanpa ketukan dahulu.
Kamu,
yg diam-diam hipnotis bawah sadarku.
Kamu,
yg diam-diam merayap masuki relung,
pun jua jantung.
Kamu,
yg diam-diam tepiskan sendu,
gantikannya jadi rindu.
Adalah kamu,
rasuki benak tak kenal waktu.
Adalah kamu,
bisikkan senda tak kunjung kelu.
Adalah kamu,
merayap menyentuh relung,
pun jua jantung.
Adalah kamu,
tepiskan peluh, gantikannya jadi candu.
Kamu,
adalah kamu. --ets101113

Friday, February 28, 2014

Renungan Malam

Guys, mari berdiskusi barang beberapa menit yuk! Terutama bagi yang merasa memang termasuk pelajar SMA yang pintar dan rajin nih. Aku ada uneg-uneg yang hampir give up to solve it. Gimana sih menurut kalian, ketidakjujuran vs kejujuran? Siapa yang bakal menang? Nah.. yuk mari berdiskusi!
Gak ada satupun pelajar yang benar-benar suka/ hobby belajar. Menurut aku sih gitu, ya. Karena aku juga merasanya seperti itu. Temen-temen satu sekolaheun selalu nganggep aku ini such a nerd, such an eager beaver. Mereka kebanyakan mikir kalo aku tuh sort of obsessed with studying omg can't anyone convince them that in fact I DON'T LIKE STUDYING? Maksudku, aku memang terkesan banyak belajar, ngikutin 3 les dalam 1 minggu yg memakan waktu setiap harinya sampai harus pulang ba'da Maghrib.. tapi itu bukan berarti aku suka belajar kan? Aku cuma dituntut untuk bisa, at least mempertahankan nilai-nilai raport aku yang udah terlanjur tinggi dari semester 1, sedangkan kalau mau ke jalur undangan kan harus naik si nilai-nilainya sampai semester 5. Nah.. karena itu aku mati-matian berusaha keras supaya aku bisa tetap jadi juara kelas.
Tapi, guys, masalahnya bukan itu. Masalahnya adalah aku yang kalau ulangan terbilang lebih sering jujur, percaya sama kemampuan diri sendiri, harus bersaing dengan classmate yang setiap ulangan selalu ob alias open book. Pantas ajalah nilai-nilai ulangan dia bagus, dan dia jadi 3 besar juga semester lalu. Tapi guys, to be honest aku takut dikalahin sama dia. Aku yang cuma bergantung sama hafalan-hafalan di luar otakku dan pemahaman materi masa iya dikalahin sama orang yang bergantung sama bukunya? Maksudku, itu gak adil sama sekali kan? Kenapa dia bisa selicik itu, gak ngehargain usaha aku yang luar biasa melelahkan ini? Kenapa harus orang macam itu (read: licik) yang harus jadi 3 besar dan jadi ancaman terbesar aku di kelas?
Aku harus gimana, guys, kan gak mungkin juga kalau aku harus ikut-ikutan ob cuma demi tetep jadi yang terbaik di kelas. Seakan cuma mengejar nilai kalau begitu, bukannya mengejar ilmu, bener gak? Tapi kalau dia tetep licik begitu, ya bisa jadi kan ujung-ujungnya ketidakjujuranlah yang bakal menang? Dan aku... kalah? Wtf?!
Apa dia yang harus diberi pelajaran? Dinasihatin aja gak mungkin, dia (katanya) memang dari SMP selalu ob begitu, dan sebelnya tuh setiap kali dia ob, gak pernah ketawan sama guru. Semacam udah professionallah. Padahal aku ingin banget kali-kali dia ketawan ob biar mampus aja tuh namanya tercemar, guru-guru juga bakal lebih "waspada" sama dia, biar tau rasa, kalau jadi orang jangan begitu. Kasian yang udah belajar sungguh-sungguh, gak menghargai kan.
Aku benci banget sama uneg-uneg ini. Kenaikan kelas masih 4 bulan lagi... semoga kelas 12 nanti aku gak sekelas sama dia. Ya Allah tolong aku.. aku gak mau sekelas sama dia ya Allah, tolong.. aamiin. :((
Guys, gimana pendapat kalian? I'm kind of tired dealing with it lately. Please help! Xo

Tuesday, February 25, 2014

Persetan dengan Dimensi Ruang dan Waktu

Persetan dengan dimensi ruang dan waktu.
Tidak bisakah dibuang pergi saja?
Keberadaan mereka kentara sekali mengganggu.
Aku tak ingin ada yang memisahkan kita, tuan.
Masih tak pahami juga kau itu?
Persetan dengan dimensi ruang dan waktu.
Aku ingin mendekap segala rasa,
aman berada dalam rengkuhanmu,
nyaman merasa dicinta, tuan.
Mungkinkah? Tapi mungkinkah itu?
Aku tak tahu, dan memanglah demikian.
Persetan dengan dimensi ruang dan waktu.
Detik tiada peduli, bukan?
Oh pernahkah itu?
Aku ingin benamkan wajah,
dalam dadamu,
menikmati getaran listrikmu, tuan.
Ya, tapi detik terus saja berpacu.
Tidak bisakah dibuang pergi saja?
—ets171213

Friday, February 21, 2014

Kunci Cinta Tanpa Gembok

“Huh,”Gerutu Salsa kepada diri sendiri. Tas dilemparkan begitu saja tanpa lihat sekeliling, tak peduli buku-bukunya berserakan.
Sekolah hari itu terasa begitu tak berarti baginya, bagi Salsa Dwi, si cewek melankolis dengan kacamata tebalnya. Ya, baginya, hari itu terlalu menyesakkan, membuatnya sulit tuk hirup kehidupan segar yang biasa ia dapat. “Bagaimana bisa satu halsaja mampu membuat hari ini sepenuhnya tidak terasa baik?!” Lanjutnya kesal, seraya berganti pakaian dan duduk di atas tempat tidur. Otaknya selalu memutar balik saat-saat dimana Galih memberitahu apa yang selama ini tak penah ingin didengarnya.Ia melamun. Fokus matanya kian lama kian berkurang, menampakkan momen itu untuk kesekian puluh kalinya.
“Ayo, baris sesuai kelasnya masing-masing, berurutan dari absen terawal!” Perintah guru olahraga Salsa. Layaknya petani yang mengurusi bebek-bebek berjalan di jalan, bebek-bebek itu serempak melakukan perintah si petani.
“Sa, tahu tidak?” Tanya Galih tiba-tiba yang membuat Salsa terkejut. “Ternyata si itu sudah menyadarinya sejak jauh-jauh hari, lho,”
Detak jantungnya mendadak memburu. Desah napasnya menderu-deru, sungguh tak kuasa ia kontrol lagi. Satu hal yang ada di benaknya: Rakka peka.
“Sa?”
Serasa jiwanya melayang ke saat-saat dimana ia bersama Rakka. Kenangan demi kenangan terlintas cepat tak kenal waktu, tak peduli ia kini sedang berada di tempat yang tidak semestinya untuk berderai air mata. “Hah si itu?!”
“Iya. Dia curiga di kelas ada yang naksir dia dan dia curiga itu kamu, tapi…”
DEG! Jantungnya berdegup lebih cepat. Pemikiran negatif mulai bermunculan di benaknya.“Tapi apa?!”
“Dia gak mau ada yang suka sama dia, soalnya katanya sih, dia mau setia sama si Lina,”
            “…”
            Lemas. Mendadak konsentrasinya buyar, benar-benar terpecah. Bak jiwa tanpa raga yang rapuh, terjatuh, tak kuasa bangkit
‘Mungkin lebih baik telinga ini tak berfungsi sejak awal daripada harus mendengar semua ini, Tuhan… Bukan ini yang ku maksud agar dia peka…’Batin Salsa.
            Pelajaran olahraga pun usai.Kebetulan pelajaran selanjutnya tak ada guru. Ia manfaatkan untuk mencurahkan isi hati di selembar kertas yang masih suci. Bolpoin dengan tinta biru siap menari, juga alunan musik slow yang akan selalu menemani. Kata pertama yang ditulis adalah…
            Kamu.
            Ya, kamu: dia--Rakka. Satu-satunya hal yang amat mengganggu pikiran.
            Entah apakah ini benar, namun harus ku akui ini memanglah fakta. Seorang kamu peka? Oh Tuhan, aku tahu ini hanyalah mimpi, bukan? Tak bisakah Kau bangunkan aku?
            Bolpoinnya semakin lincah menari-nari di atas selembar kertas putih itu.
            Hm… Ketika ini semua hanya mampu terucap. Ketika perasaanku tak mungkin aku tunjukkan. Ya. Ketika semua hanya sebatas kata, yang ternyata perlu aku lakukan hanyalah sadari ini, bahwa kau tak mungkin miliki rasa yang sama. Segala tindakan bodoh yang telah aku lakukan demi kamu hingga detik ini sia-sia, bukan? Aku memang bodoh, ya, aku memang bodoh telah terus memperjuangkanmu sedangkan kamu… memperjuangkan dia.
Ah, bisakah kau jelaskan pada…
            “Sa? Lagi ngapain?”
            “Hah?” Sontak Salsa berhenti menulis. Kertasnya ia balikkan agar tak ketahuan bahwa ia sedang mencurahkan isi hatinya. “Engga, ini lagi nulis-nulis aja, corat-coret, hehe”
            “Oh, serius amat ya,” Vani duduk di sebelahnya, mengeluarkan novel dan asik membaca. Salsa diam beberapa detik, melihat situasi apakah bolpoinnya bisa melanjutkan menari lagi di atas selembar kertas yang kini sudah tergores tinta hampir setengahnya itu.
            …ku mengapa kemarin-kemarin matamu kerap kali bertemu pandang denganku dan kita saling tersenyum walau dalam hitungan detik? Apa itu namanya, jika bukan cinta, mengingat kau melakukannya tak hanya dalam hitungan jari, Rak?
Aku pikir aku yang salah dan kamu yang memang sulit untuk peka, sulit untuk menyadari perasaan bodoh ini yang dengan sendirinya datang tanpa ku undang… terhadapmu. Tapi mungkin aku harus bercermin lagi dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang berbeda. Mungkin memang salahku, mungkin memang aku yang terlalu perasa, dan aku yang terlalu menganggap ini semua sepihak dengan perasaanku.
“Sa, kenapa?”
Salsa terkejut bukan main ketika mendapati Vani sedari tadi membaca tulisannya. Begitulah jika ia sudah berada di dunianya, seakan di dunia hanya ada ia dan hatinya yang terluka bersama kenangan-kenangan yang kerap kali menghantuinya,
“Eh, gak ko, gak apa-apa, hehe,”
“Masa? Segitu kamu galau gitu, cerita dong, aku udah baca dari awal, kenapa sih?”
“Kamu baca kok ga bilang-bilang, sih?!” Tutur Salsa berpura-pura marah.
“Ih bukan begitu, tapi ya aku…”
“Tapi apa?!” Tukas Salsa.
“Ma…”
“Lain kali kalau mau baca sesuatu milik orang itu minta izin dulu dong!” Tawa Salsa di dalam hati semakin meledak melihat ekspresi Vani yang serba salah.
“Sal, aku… aku…”
“Huahahahaha, sudah tak apa, Vani. Bercanda kok, yaelah, diambil hati banget, sih, kamu. Jadi… gini. Aku…” Tanpa diminta lagi, Salsa dengan sendirinya menceritakan semua. Dalam hitungan detik, wajahnya pun berurai air mata.
Pulang sekolah, seperti biasa ia kembali ke rumah sendiri dengan angkutan kota. Masih tak bersemangat memerhatikan sekeliling, wajahnya datar dengan mata sembap menatap luar jendela angkot. Tanpa terasa, air matanya jatuh--lagi!
Salsa mengerjapkan mata, kembali pada dunia nyata, di kamarnya. Duduk tepekur seperti itu membuatnya pegal, maka ia rebahkan diri.
Memang, semua ini bukanlah apa yang ia harapkan--tentu saja. Doa teman-teman di hari ulang tahunnya terngiang kembali, seakan cuplikan film bagian awal yang ia tak tahu bagaimana kelanjutannya.
“Happy birthday to you! Happy birthday to you! Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you!”
“Semogaaa si dia cepat peka ya sama kode-kode yang selama ini kamu kasih, Sa, haha, dia gak peka-peka sih, dasar cowok!”
“Ah tapi feeling aku sih dia udah peka, cuma pura-pura gak nyadar saja, hahaha,”
            Alis Salsa bertaut, wajah manisnya tergores senyuman kecil yang pahit mengingat itu semua ternyata berakhir seperti ini. Rakka peka, hanya saja masih tak mungkin lupakan Lina, kecengannya.
            “Apalah arti ku menunggu bila kamu masih menaruh hati padanya?” Bisik Salsa pada diri sendiri. Ia tersenyum masam, “Dan apalah arti semua ini, arti sorot matamu yang diam-diam kau tujukan padaku juga arti segala senyummu yang hanya kau berikan padaku, hah? Apa?!”
            Salsa masih tersenyum masam sebelum ia bangkit berdiri mengambil bolpoin biru dan Diarynya. Lembar demi lembar dibuka, hingga ia temukan lembaran yang masih suci, lagi—ia goreskan kata demi kata di sana.
            Saat ku terdiam, acapkali terbesit namamu. Saat ku ramaikan suasana pun acapkali teringat kenangan kita, saat sorot matamu menatap lembut mataku, dan senyumanmu… yang dengan mantap terarah padaku… betapa aku ingin berhentikan waktu, kala itu… bersamamu, Rakka, Hanya saja, ternyata cinta yang selama ini aku kira mulai bersemi di antara kita itu hanyalah angan, bukan? Dan mengapa tak kau beri tahu aku saja bahwa kau masih dan mungkin akan selalu memperjuangkannya? Mengapa kau biarkan hati ini teriris? Ya, pasti kamu pun tak menyadari bahwa pendar dari mata ini hilang dalam sekejap, bukan? Hah! Tentu saja.
            Rakka, bisakah kau memberi tahuku di mana aku harus menemukan gembok cintamu yang selama ini masih terkunci terhadapku? Apalah arti kunci yang selama ini ku pegang erat dengan penuh harap jika tanpa gemboknya?
“Ah ya, tepat sekali! Itulah kata-kata yang selama ini ku cari, ya ampun, haha,” Tawa Salsa dalam sedih. “Kunci dan gembok. Kunci yang tak mampu membuka gembok hatimu. Ya. Kunci cinta tanpa gembok.” --ets020513